

SARIPATI/Petikan Khotbah Jumat Imam Jemaat Islam Ahmadiyah Sedunia Sayyidina Amirul Mukminin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih V atba.—Mesjid Baitul Futuh Morden-London, Inggris, 4 Januari 2008
TAHUN Baru Perjanjian Waqfi Jadid Periode 2008
KEPADA Pengurus Jemaat dan Badan, para Ahmadi mubayyi’in baru harus mendapatkan taklim dan tarbiyat yang baik. Para Pengurus harus mengerti betapa pentingnya Perjanjian ini. Sehingga, setiap Ahmadi harus mengerti tanggung jawabnya. Bila tingkat pengorbanan para Pengurus tidak sampai pada kadarnya, maka nasihat mereka tidak akan memberikan impact pada yang lainnya.
SEPERTI biasa, Hudhur (Khalifatul Masih V) atba. mengawali khotbah jumat dengan dua kalimah syahadat, doa ta’awuz serta tilawat QS Al-Fâtiĥah dan disambung dengan QS [Al-Baqarah] 2:263. Pada awal khotbah, Hudhur atba. bersabda bahwa membelanjakan harta di jalan Allah swt. merupakan tugas orang-orang mukmin agar dapat meraih rida Allah (QS 2:273), tanpa menyebut-nyebut dan mengejar-ngejar dengan menyatakan sebagai suatu kebaikan bagi orang maupun kebanggaan diri atau riya. Jika tidak demikian, maka bertentangan dengan QS 2:229. Namun, jika hal tersebut diamalkan semata-mata meraih rida Allah swt., maka QS 2:263 menjanjikan bahwa Allah swt. sendiri-lah yang akan membalasnya. Dan bila demikian adanya, maka sesungguhnya tiada ketakutan maupun kesedihan pada diri kita.
Perumpamaan seorang yang beramal karena riya bagaikan seekor burung sakit yang tertinggal dari kelompok terbang burung-burung lainnya, yang kemudian ia akan mati hancur di hutan atau di tempat lainnya, dia tidak akan memperoleh kebaikan agama maupun duniawi. Dengan karunia Allah swt. bahwa kita termasuk di antara jemaah Hadhrat Imam Mahdi—dan—Masih Mau’ud a.s., jemaah yang orang-orangnya tidak akan merasa ketakutan maupun bersedih hati akan hal-hal yang sudah lalu. Harta—apa pun, yang telah kita korbankan dan kita nafkahkan, adalah karena mengikuti seruan Allah swt. di jalan-Nya. Allah swt. senantiasa memberikan ganjaran sebanyak-banyaknya dan lebih banyak lagi (QS [Al-Ĥadîd] 57:8).
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menciptakan ruh semangat di antara kita, berupa kesadaran dan pengertian mana yang-baik dan yang-tidak tentang keindahan ajaran Islam. Beliau a.s. juga memperlihatkan kepada kita sarana-sarana menjalani hidup sesuai perintah Allah swt..
Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa janganlah punya kecintaan pada harta kekayaan. Karena, kita tidak akan meraih kebaikan sempurna jika belum menginfakkan dari sesuatu yang benar-benar kita sayangi (QS [Âli ‘Imrân] 3:93).
Dibandingkan masa Hadhrat Rasulullah saw., Hudhur atba. menyayangkan bahwa zaman sekarang tidak ada yang lebih dicintai seseorang selain dirinya sendiri saat tuntutan sebuah pengorbanan diperlukan. Padahal, Allah swt. telah memfirmankan bahwa kita tidak akan dapat meraih rida Allah swt. kecuali jika kita bersedia meninggalkan keinginan hati, kehormatan diri dan meninggalkan harta. Yang kemudian, kita akan menjalani kehidupan sulit di jalan Tuhan yang tiada beda dengan kematian.
Karenanya, jika kita melakukannya seperti demikian, kita akan mewarisi keberkahan-keberkahan para orang saleh masa lampau. Pintu setiap keberkahan akan Allah swt. bukakan bagi kita jika kita berserah diri sepenuhnya. Allah swt. memperhatikan dan memelihara kita. Allah swt. akan memperlihatkan manifestasi-Nya melalui diri kita. Allah swt. bersama kita. Rumah kita akan diberkati, tiap penjuru dindingnya akan menjadi tempat di mana keberkatan-keberkatan Allah swt. turun. Kota tempat tinggal kita juga akan Dia berkati.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah membentuk ruh semangat ke dalam hati kita tentang kecintaan terhadap Hadhrat Rasulullah saw.. Beliau a.s. telah memberikan kita pengertian dan persepsi indahnya ajaran Alquran Karim. Jika kita mengikuti jalan ini, maka kita akan meraih rida-Nya. Sebagaimana yang sudah kita lihat bahwa Allah swt. telah memerintahkan pengorbanan infak harta sebagai sarana meraih rida dan Raĥmân-Nya.
Hadhrat Imam Mahdi—dan—Masih Mau’ud a.s. telah menerangkan perkara penting ini kepada kita sehingga dengan efektif kita mampu melaksanakan tugas menyampaikan kembali amanat Islam dengan cara terbaik di mana setiap orang dapat ikut serta melaksanakan kewajibannya.
Dan ini, diteruskan kembali oleh para Khalifah Jemaat Ahmadiyah dengan mengingatkan jemaah akan perkara yang sama. Ini akan terus berlanjut. Karena, agar dapat meraih rida Allah swt., bersama-sama dengan ibadah itu, maka segala macam pengorbanan pun diperlukan; di mana, pengorbanan infak finansial merupakan salah satunya.
Pada masa kekhalifahan yang kedua, Hadhrat Muslih Mau’ud (Khalifatul Masih II) r.a. telah mengonsolidasikan struktur Jemaat yang sangat kuat. Pada 20 Desember 1957, beliau r.a. mendirikan proyek pertabligan Waqfi Jadid berupa dana perjanjian ke hadapan Jemaat. Dari sinilah, lahir para Mualim dan ustad-ustad untuk anak benua Hindustan, yakni India, Pakistan dan Bangladesh, sampai di tiap penjuru desa hingga kampung terpencil. Sehingga, pesan dan amanat Hadhrat Imam Mahdi—dan—Masih Mau’ud a.s. dapat tersebar luas lebih cepat.
Kini, program tersebut semakin menampakkan hasil selama 50 tahun, dan kini sudah menginjak tahun yang ke-51. Gerakan ini, mula-mulanya hanyalah untuk India, Pakistan dan Bangladesh di mana kebanyakan orang-orang Ahmadi dari Negara-negara ini harus ikut bagian di dalam program ini. Versi lain menganggap, hanya warga Ahmadi Pakistan-lah yang ikut berpartisipasi dan memberikan kontribusinya pada proyek dana perjanjian tersebut. Hampir semuanya diberikan oleh para Ahmadi Pakistan. Demikian pun, para Ahmadi mewakafkan diri secara total (waqaf zindegi) dan Mualim, ustad-ustad serta murabi, juga berasal dari orang-orang Pakistan.
Sejak 1985, Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h. memperluas jangkauan Waqfi Jadid ke seluruh dunia. Semua orang diminta partisipasinya dalam program ini. Dana Waqfi Jadid digunakan untuk proyek-proyek tabligh di Eropa, Amerika maupun Afrika.
Sejak Kekhalifahan yang ketiga, Hadhrat Khalifatul Masih III r.h. mencanangkan gerakan Waqfi Jadid bagi anak-anak Ahmadi Pakistan bahwa mereka ikut ambil bagian dalam perjanjian tersebut dan harus mampu mengatakan kepada seluruh dunia tentang komitmen dan objektifitas mereka yang sangat tinggi menyambut gerakan suci tersebut—fastabiqul khairat. Anak-anak ini tidak punya penghasilan. Mereka menyisihkan dari uang saku mereka. Kadang-kadang, orang-tua membayarkan perjanjian Waqfi Jadid atas nama anak-anaknya.
Adanya tradisi suci dan tingginya dedikasi anak-anak Ahmadi ini, Jemaat Ahmadiyah Pakistan mengalami kenaikan 50 persen dalam candah Waqfi Jadid meski itu bisa ditingkatkan. Dengan karunia Allah swt., inilah media latih sehingga anak-anak terbiasa dengan pengorbanan finansial semejak dini.
Sekarang, gerakan dana Waqfi Jadid sudah mapan di seluruh dunia. Setiap keluarga harus menaruh perhatian khusus terhadap perkara ini. Sekretaris Waqfi Jadid dan Pengurus Jemaat serta Athfal dan Nasirat dan organisasi Badan-badan lainnya, harus menaruh perhatian yang khusus pada program ini. Maksimumkan jumlah anak-anak dalam Daftar Perjanjian ini. Anak-anak harus mengerti pentingnya pengorbanan suci ini. Dan semangat pengorbanan ini harus tertanam di dalam diri mereka. Hikmahnya di kemudian hari, mereka akan menjauhkan diri dari mengejar hal-hal yang sia-sia dan yang tidak ada gunanya. Mereka akan menjadi orang-orang yang mendapat rida Allah swt..
Perkara ini haruslah diingat para orang tua dan juga oleh anak-anak, laki-laki dan perempuan. Kita harus ingat bahwa ada terjadi revolusi sebagai hasil dari pengorbanan. Pada zaman sekarang, ketika merebak dan lazimnya materialistik, maka pengorbanan finansial ini merupakan jalan terbaik untuk mereformasi seseorang. Keinginan anak-anak itu juga ada dan keinginan dari orang tua pun ada di sana. Jika kita menekan keinginan kita demi Allah swt., maka kita harus menginfakkan pengorbanan finansial kita. Hal ini akan banyak mempercepat tujuan tersebut. Keinginan duniawi mengeluarkan uang untuk sesuatu hal sangatlah mudah. Tetapi bagi keperluan agama, jika kita membelanjakannya, maka yang demikian tersebut, akan merupakan suatu jihad yang besar.
Selanjutnya, Hudhur atba. menghimbau kepada para warga Ahmadi yang baru baiat (mubayyi’in baru) tentang pentingnya ikut ambil bagian dalam berbagai pengorbanan finansial dengan baik. Dan kepada Pengurus Jemaat dan Badan, para Ahmadi mubayyi’in baru harus mendapatkan taklim dan tarbiyat yang baik. Para Pengurus harus mengerti betapa pentingnya Perjanjian ini. Sehingga, setiap Ahmadi harus mengerti tanggung jawabnya. Bila tingkat pengorbanan para Pengurus tidak sampai pada kadarnya, maka nasihat mereka tidak akan memberikan impact pada yang lainnya. Jika para Pengurus dapat melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya sungguh-sungguh, maka laporannya jelas mengindikasikan bahwa mereka telah menjaga dan melaksanakan tanggung-jawabnya.
Hudhur atba. kemudian menyinggung tugas Pengurus yang harus seimbang dalam membagi waktu, mana hak-hak untuk pekerjaan jemaat, mana waktu mencari nafkah dan mana waktu yang harus dialokasikan untuk keluarga. Kadang-kadang, ada Pengurus yang mencari nafkah sedemikian kerasnya, sehingga mereka tidak sempat mengirimkan segera laporan kerjanya. Disinggung pula oleh Hudhur atba., bahwa beberapa Pengurus dari Kelompok Tarbiyat dan Maal harus bekerja sama mengenai Waqfi Jadid.
Dalam beberapa bulan ke depan, kita memasuki Abad baru Khilafat, maka Pengurus Jemaat yang didirikan di berbagai Negara dan kota-kota maupun daerah dan juga Organisasi Badan-badan Jamaat, harus melancarkan program-program sedemikian bahwa prosentase pengorbanan setiap Ahmadi harus terus naik. Program ini mengharapkan adanya rida Allah swt..
Setiap Ahmadi baik tua maupun muda, harus bermuhasabah diri sebagai tanda rasa syukur atas apa yang akan dihadiahkan kepada Allah swt. tersebut. Hudhur atba. bersabda bahwa Waqfi Jadid merupakan seruan gerakan dana perjanjian yang diluncurkan Hadhrat Muslih Mau’ud r.a.. Di dalamnya, terdapat aspek finansial dan pendidikan.
Lebih lanjut, Hudhur atba. mengemukakan bahwa dengan dibukanya Tahun Baru Perjanjian Waqfi Jadid Periode 2008 ini, merupakan hari akhir dari Abad Pertama Khilafat. Beliau menjabarkan kemajuan-kemajuan Jemaat yang revolusioner di India, Pakistan dan Bangladesh di bawah Program Waqfi Jadid. Bila pertolongan Allah swt. dan doa-doa ada bersama kita, maka di sana tidak akan ada orang yang dapat menghentikan fase kemajuan ini dan Jemaat ini akan terus maju ke depan.
Tetapi di samping itu, kita harus menciptakan standar yang bagus di dalam pengorbanan finansial. Demikian halnya, kita pun harus meningkatkan pertablighan dan tarbiyat di pelosok-pelosok kampung dan desa.
Hudhur atba. menyatakan bahwa beliau telah menginstruksikan kepada Jemaat-jemaat untuk menciptakan hubungan dengan para mubayyi’in baru. Pengorbanan finansial sangat essential bagi kesalehan kita. Karenanya, dengan doa-doa dan dengan kesalehan ini, kita harus terus maju ke depan dan harus menyambut dan mengucapkan ‘Selamat Datang pada Abad Baru Khilafat’.
Tradisi suci yang kita bentuk pada anak-anak dan para mubayyi’in baru dalam pengorbanan finansial beserta perasaan ‘perlunya-pengorbananini’ serta ‘perlunya-untuk-menjadi-lebih-kuat-di-dalam-kesalehan’ itulah yang harus kita miliki. Cara ini, akan memberi mereka kemampuan ikut serta dalam revolusi kerohanian tersebut. Para Pengurus harus memperlihatkan kepada mereka kemajuannya.
Pada waktu bersamaan, orang-orang yang bergabung dalam kebenaran pun akan mampu turut serta dalam pengorbanan finansial, yang merupakan penambah semangat bagi orang-orang ini. Semata-mata li`l-Lâhi Ta’âlâ, bilamana ada usaha untuk meraih standar pengorbanan yang tinggi, maka inilah sebenarnya yang akan menjadi sarana penegakkan Tauhid Ilahi dan Kemahaesaan Allah swt. guna memenuhi maksud dari diutusnya Hadhrat Imam Mahdi—dan—Masih Mau’ud a.s. sebagai pengibar panji-panji Hadhrat Nabi Besar Muhammad-mustafa Rasulullah saw. di seluruh dunia dan semua penjuru negeri.
Dengan karunia Allah swt., selama tahun 2007, Jemaat telah mengumulkan dana lebih dari 2,42 Poundsterling Inggris, meningkat 200 ribu Poundsterling dari tahun sebelumnya atau dua kali lipat dari tahun 2006 yang kenaikannya pada angka 110 ribu Poundserling. Sepuluh Besar Jemaat Nasional teratas di dalam realisasi Perjanjian Waqfi Jadid adalah sebagai berikut: Pakistan nomor satu, kemudian disusul berturut-turut Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Kanada, India, INDONESIA, Belgia, Australia, dan Perancis.
Menjelang akhir khotbah, Hudhur atba. berdoa, semoga Allah swt. memberikan pahala yang sebesar-besarnya atas dedikasi semua warga Ahmadi dalam perjanjian Waqfi Jadid ini. Semoga Allah swt. memberkati harta maupun kekayaan para Ahmadi. Semoga mampu meningkatkan pengorbanannya. Namun demikian, para Ahmadi ini jangan hendaknya berbuat tidak adil terhadap diri sendiri dikarenakan dedikasi dan semangat pengorbanannya tersebut.
Semoga Allah swt. memberikan ganjaran dan pahala yang sebanyak-banyaknya. Sesuai janji-Nya, Allah swt. akan memberi ganjaran besar. Semoga menjadi penyemangat bagi orang-orang lain untuk berkorban. Orang-orang yang demikian ini akan tetap ada, yang tidak akan membiarkan semangat berkorbannya mati, di mana para Ahmadi tidak akan merasa letih dan bosan, terus memberikan pengorbanan di jalan Allah. Para Ahmadi harus menyebarluaskan keteladanan tersebut, bahwa pada masa mendatang pun, hatinya senantiasa dipenuhi rasa syukur dan doa-doa. Semoga Allah swt. memberikan ganjaran pahala kepada para Ahmadi yang telah memberikan keteladanan yang bagus ini. Dan semoga, para Ahmadi menanamkan spirit yang sama pada generasi berikutnya, yang diperlukannya guna meraih rida Allah swt.. Semoga Allah swt. mengabulkannya. Amin. [MTA/H.P.Sumantri “JAI Jakbar”/H.S.A.Lubis “JAI Serua”/Ali “JAI Kby”]


Post a Comment